Senin, 22 Maret 2021

Sinyal Analog Menjadi Digital

Secara umum, sinyal didefinisikan sebagai suatu besaran fisis yang merupakan 
fungsi waktu, ruangan atau beberapa variabel. Menurut Stoneytiti, sinyal adalah 
kuantitas terukur yang rentang waktuny atau spasial yang bervariasi. Sebuah 
sinyal dapat dinyatakan sebagai fungsi dari waktu dan frekuensi.

Sinyal Analog bekerja dengan mentransmisikan suara dan gambar dalam bentuk 
gelombang kontinu (continous varying). Dua parameter/karakteristik terpenting yang 
dimiliki oleh isyarat analog adalah amplitudo dan frekuensi. Isyarat analog biasanya 
dinyatakan dengan gelombang sinus, mengingat gelombang sinus merupakan dasar 
untuk semua bentuk isyarat analog. Hal ini didasarkan kenyataan bahwa berdasarkan 
analisis fourier, suatu sinyal analog dapat diperoleh dari perpaduan sejumlah gelombang 
sinus. Dengan menggunakan sinyal analog, maka jangkauan transmisi data dapat 
mencapai jarak yang jauh, tetapi sinyal ini mudah terpengaruh oleh noise. Gelombang 
pada sinyal analog yang umumnya berbentuk gelombang sinus memiliki tiga variabel 
dasar, yaitu amplitudo, frekuensi dan phasa


Sinyal digital merupakan hasil teknologi yang dapat mengubah signal menjadi 
kombinasi urutan bilangan 0 dan 1 (juga dengan biner), sehingga tidak mudah 
terpengaruh oleh derau, proses informasinya pun mudah, cepat dan akurat, tetapi 
transmisi dengan sinyal digital hanya mencapai jarak jangkau pengiriman data yang 
relatif dekat. Biasanya sinyal ini juga dikenal dengan sinyal diskret. Sinyal yang 
mempunyai dua keadaan ini biasa disebut dengan bit. Bit merupakan istilah khas pada 
sinyal digital. Sebuah bit dapat berupa nol (0) atau satu (1). Kemungkinan nilai untuk 
sebuah bit adalah 2 buah (21
). Kemungkinan nilai untuk 2 bit adalah sebanyak 4 (22
), 
berupa 00, 01, 10, dan 11. Secara umum, jumlah kemungkinan nilai yang terbentuk oleh 
kombinasi n bit adalah sebesar 2n
 buah.


Konsep Dasar ADC (Analog to Digital Converter) 
Sebuah ADC (Analog to Digital Converter) berfungsi untuk mengkodekan 
tegangan sinyal analog waktu kontinu ke bentuk sederetan bit digital waktu diskrit 
sehingga sinyal tersebut dapat diolah oleh komputer. Proses konversi tersebut dapat 
digambarkan sebagai proses 3 langkah

Sampling (pencuplikan) 
Merupakan konversi suatu sinyal analog waktu-kontinu, xa(t), menjadi sinyal 
waktu-diskrit bernilai kontinu, x(n), yang diperoleh dengan mengambil “cuplikan” 
sinyal waktu kontinu pada saat waktu diskrit. Secara matematis dapat ditulis : 
x(n) = xa(nT) 
Dimana : 
T = interval pencuplikan (detik) n = bilangan bulat, -∞ < n < ∞

Quantizing (kuantisasi) 
Merupakan konversi sinyal waktu-diskrit bernilai-kontinu, x(n), menjadi sinyal 
waktu-diskrit bernilai-diskrit, xq(n). Nilai setiap waktu kontinu dikuantisasi atau dinilai 
dengan tegangan pembanding yang terdekat. Selisih antara cuplikan x(n) dan sinyal 
terkuantisasi xq(n) dinamakan error kuantisasi. Tegangan sinyal input pada skala penuh 
dibagi menjadi 2N tingkatan. Dimana N merupakan resolusi bit ADC (jumlah kedudukan 
tegangan pembanding yang ada). Untuk N = 3 bit, maka daerah tegangan input pada 
skala penuh akan dibagi menjadi : 2N= 23
= 8 tingkatan (level tegangan pembanding) .

Coding (pengkodean) 
Setiap level tegangan pembanding diko an dekan ke dalam barisan bit biner. 
Untuk N = 3 bit, maka level tegangan pembanding = 8 tingkatan. Kedelapan tingkatan 
tersebut dikodekan sebagai bit-bit 000, 001, 010, 011, 100, 101, 110, dan 111.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar